Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Minggu, 10 Mei 2015

[Triology] WIWYG Part 2 - It’s Not Easy

Diposting oleh Unknown di 09.13



Tittle
WIWYG Part 2 - It’s Not Easy
Author 
HalfAngel
Main Cast
Lalisa Manoban as Lalice

Kunpimook Bhuwakul (Bambam) as Bambam

Goo Junhoe (Junhoe) as Goo Junhoe (Junhoe)
Other Cast
iKon member and Pink Punk member
Special Cameo
Yang Hyunsuk CEO
Genre
Friendship, Rommance, Hurt (maybe)
Length
Triology + Epilog
Rating
T
Summary
You're a bad boy I am a bad girl. We were in a bad relationship from the start. Obsessing and restricting each other. We spit out words we didn't mean. Even after the repeating fights, you belived this was love?


Hmm… sebenernya author lagi galau, tapi kegalauan author yang satu ini ga bisa diceritain dimana-mana wkwk. Oke kalo gitu ini part 2 dari cerita wiwyg. Sebenernya mau dipost barengan sama ulang tahun Bambam kemarin, ya tapi berhubung ga ada koneksi akhirnya ditunda sampai sekarang haha.

Oh iya sebelum lupa author mau minta maaf banget kalau disini tokoh Bambam author nistain sedalem-dalemnya. Author ga benci sama Bambam kok, cuman Bambam pas banget buat dijadiin cast buat tokoh satu ini. Jadi jangan benci Bambam, Lalice ataupun Junhoe ya…. Selamat membaca :)

“Bambam-a aku minta maaf atas segala perlakuan tidak mengenakkan yang telah kau terima dariku. Aku sadar manusia hidup itu untuk mencari teman bukan untuk mencari musuh.” Lalice mengirimkan kalimat permintaan maafnya pada Bambam dengan ponselnya.

“No problem, nggak masalah kok.” Bambam membalas pesan yang dikirim Lalice.


Tidak ada balasan, sampai beberapa hari akhirnya Bambam memutuskan untuk menghubungi Lalice kembali. Ia menyatakan perasaannya pada Lalice. Namun sayangnya Lalice tak pernah berniat untuk membaca pesan itu, ia hanya melihat notifikasi di atas layar kemudian menghapus notifikasinya. Beberapa minggu berlalu dan Lalice hanya membiarkan pesan itu berlabel ‘Delivered’ sampai akhirnya Lalice membaca seluruh isinya dan juga masih membiarkan pesan itu berlabel ‘Read’ saja.

Berhari-hari pesan itu berlabel ‘Read’ dan Bambam masih mencoba menghubungi Lalice. Jujur saja mungkin Lalice memang sudah malas berurusan dengan namja yang mempunyai asal negara sama dengannya. Bukan karena pandangan subjektif, tapi memang Lalice ingin menghargai Junhoe dan apa yang telah ia katakan.

#Flashback

“Kau ingat hari dimana kita semua berangkat menuju dorm yang telah ditentukan YG Sajangnim?” Jisoo menanyakan pertanyaan aneh pada Lalice.

“Umm... tentu saja, bagaimana aku bisa lupa.” Lalice menjawab dengan mantap.

“Kau tau, sebelum kau dan Junhoe bertemu dia sibuk mencarimu diantara kerumunan orang banyak itu. Bahkan ia menelponku untuk menanyakan keadaanmu.” Jisoo menjelaskan apa maksud ia menanyakan pertanyaan aneh tadi.

“Jinjja? Benarkah unnie?” Lalice meragukan pernyataan yang dikeluarkan Jisoo tadi.

“Apa kau melihat gelagat kalau aku ini berbohong huh?? Tentu saja tidak.”

“Kau tau, Juhoe juga pernah mengatakan jika ia rela melihatmu bersanding dengan laki-laki lain jika memang kalian tidak berjodoh. Tapi Junhoe tidak akan pernah menyetujui jika kau menerima Bambam sebagai kekasihmu. Aku tidak menanyakan alasan pasti kenapa dia mengatakan itu, tapi yang jelas kemungkinan besar Junhoe sudah pasti tau hal buruk yang selalu Bambam lakukan.” Jisoo menjelaskan panjang lebar.

“Unnie.... aku tidak salah dengar kan?” Lalice mencoba meluruskan apa yang barusan ia dengar.

“Kau bisa lihat aku tidak memutar mataku ketika aku berbicara tadi kan, apa itu masih kurang membuktikan kalau aku berkata yang sejujur-jujurnya?” Jisoo memelototi Lalice sebagai bentuk protesnya.

“Ne unnie, aku bisa mempercayai kata-katamu. Hahaha......” Lalice tertawa geli melihat kelakuan unnienya tadi.

#End of Flashback

“Benarkah kau mengatakan itu untukku Junhoe oppa?” Lalice menarik napas dalam-dalam mencoba menghilangkan kegelisahannya.

Sementara Bambam masih mencoba menterror Lalice dengan kalimat-kalimat manis yang ia lontarkan. Entah itu kalimat manis yang memang tulus diucapkan atau hanyalah kalimat rayuan semata.

“Bambam-a, kau tau dulu memang aku pernah mempunyai perasaan padamu. Tapi sekarang dalam lubuk hatiku tidak ada celah kecil untukmu. Akupun tak tau kapan perasaanku padanya akan hilang.” Lalice kembali menghembuskan nafas panjangnya.

“Junhoe oppa... kenapa sangat sulit menghapusmu dari memori otakku?”

Bambam : Lisa-ya berikan aku alamat dormmu. Minggu depan aku akan kesana.

Lalice : Kau bisa cari di google alamat YG Training Centre.

Bambam : Yang benar saja, aku tidak mungkin menemuimu disana.

“Ottokhae??? Aish jinjja.... aku 100% tidak akan mempercayai kata-kata namja ini. Eishh...” Lalice menggerutu sendiri membaca pesan yang masuk ke ponselnya.

Lalice : 591-1 Seongsan-dong Mapo-gu, Seoul

Bambam : Ok, minggu depan aku datang.

***

Suatu Sabtu di bulan November, ketujuh yeoja bersemangat untuk bersama-sama mencari makan malam di antrian kerumunan orang-orang yang sedang bersuka cita dengan orang terkasih memanfaatkan waktu akhir pekan. Terlihat ketujuh yeoja itu mengerumuni sebuah warung yang menjajakan ddubokkie.

“Umm.. sebentar ya, ada yang menelponku.” Lalice segera menjauh dari unnie dan dongsaengnya.

Ternyata sebuah panggilan video.

“Hallo…” Lalice menjawab panggilan video itu, tapi bukannya mengarahkan kamera depannya pada wajahnya ia malah membalik posisi ponselnya. Jadilah ia mengangkat telepon dengan posisi terbalik, ia malah menempelkan kamera belakang pada daun telinganya.

“Ya! Kenapa kau tidak menampakkan wajah manismu chagi?” terdengar suara namja dari balik layar.

“Anieyo aku sedang diluar… pai pai.” selesai menjawab seperlunya Lalice mematikan sambungan panggilan video.

Belum selesai usaha namja satu ini, ia mengirimkan gambar meme dengan tulisan “I want to be yours, but you hate me” disertai dengan voice note yang bahkan Lalice tak mengerti suara itu menyuarakan apa. Lalice tak dapat mendengar dan memahami isi voice note itu dengan baik. Puncak dari kekesalannya, yeoja itu mencopot baterai smartphonenya dan memasukkannya dalam tas.

“Eishh jinjja, memangnya aku siapa? Chagi? Eww…” gerutu Lalice sebal menghampiri keenam temannya yang sudah duduk manis didepan makanan yang mereka pesan.

“Ya!! Kenapa mukamu terlihat seperti melihat hantu huh?” Jisoo memastikan keadaan Lalice.

“Anieyo unnie, I’m fine. Ayo makan!!” Lalice kembali terlihat bersemangat begitu melihat banyak makanan di meja.

Mereka semua menghabiskan waktu malam minggu sampai tenggah malam. Tak terasa mereka banyak menghabiskan obrolan di taman kota yang kini telah sepi tanpa ada orang yang berlalu lalang. Menyanyikan lagu sunbaenim mereka dan menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang masa depan mereka.

“Ayo pulang, sudah terlalu larut.” Jennie mengajak seluruh temannya pulang karena waktu telah memaksa mereka untuk kembali ke Dorm.

“Besok minggu kan? Ayo kita main, mencari baju baru hehe....” Jinny kembali bersuara disela perjalanan menuju dorm.

“Oke. Call, ayo kita mencari aksesoris untuk ketujuh member.” ajak Miyeon bersemangat.

“Ayoo.... bukankah Team B dulu juga mempunyai aksesoris persahabatan? Ayo kita buat versi Pink Punk!!” Chaeyong menambahi.

“Setuju......” Jisoo menjawab dengan bersemangat.

Seperti yang telah dijadwalkan, Minggu siang mereka pergi mencari aksesoris dan kebutuhan mereka setelah mendapat ijin dari staff YG. Mereka bersama-sama pergi ke tempat perbelanjaan yang tidak jauh dari dorm mereka. Seperti kebanyakan yeoja lainnya jika sudah berkumpul untuk window shopping, dari seluruh penjuru pasti akan dijelajahi sampai lupa waktu.

“Ayo kita membeli gelang dengan model yang sama tapi dengan warna kesukaan masing-masing!” Jennie menyarankan.

“Setuju, ayo beli yang ini.” Jinny menunjuk gelang dengan hiasan berupa bulu dengan warna pink.

“Gurae... aku mau warna biru.” Miyeon menyetuji dan segera mengambil gelang yang ia inginkan.

Tanpa mereka sadari, kini sore telah menjemput. Setelah puas ber-grouphie ria di atap mall, mereka belum memutuskan untuk pulang. Bukan untuk melarikan diri, mereka juga butuh waktu untuk saling berbicara.]

“Unnie, bagaimana jika suatu saat nanti kita dipisahkan sebelum debut?” Lalice menyebutkan ketakutannya.

“Kita hanya bisa berlatih keras dan berdoa semoga semua ketakutan itu tidak terjadi Lisa-ya.” Jennie melirik seluruh membernya.

***

“Lisa-ya, sepertinya tadi ada yang datang kesini untuk mencarimu.” Jisoo memberitau Lalice begitu mengecek video doorphone yang terpasang di depan pintu.

“Yang benar saja, kurasa mamaku tidak sedang ada di Korea.” Lalice bingung mendengar perkataan unnienya.

“Bukan mamamu, Bambam.” Jisoo memelankan suaranya ketika menyebut nama Bambam.

“Huh? Dia? Ngapain dia datang?” Lalice kembali menggerutu.

“Sepertinya kau sangat membenci nama itu, kenapa Lisa-ya?” Jisoo penasaran apa alasan Lalice selalu menghindari satu nama ini, bahkan untuk menyebut namanya pun Lalice enggan.

“Unnie, apa kau janji akan merahasiakannya jika aku memberitaumu?”

“Tentusaja, kau bisa memegang ucapanku.” Jisoo menyanggupi.

Lalice POV

Akhirnya hari ini aku bisa menceritakan semua cerita terpendamku setelah bertahun-tahun hanya kusimpan sendirian. Perasaan yang telah hilang itu kuceritakan pada Jisoo unnie, karena aku ingin meminta pendapat unnie. Yepp…. Dulu memang aku ‘pernah’ menyukai Bambam, tapi itu dulu sebelum kehadiran Junhoe yang bisa membuatku merasa nyaman didekatnya.

“Unnie, kau tau kan dulu aku pernah berada di satu grup We Zaa cool dengan Bambam.” Aku memulai ceritaku.

“Eung… tentu saja. Itu saat kau masih audisi untuk menjadi YG trainee kan?” Jisoo unnie mulai menangkap arah pembicaraanku.

“Pada saat itu aku memang pernah menyukai Bambam, entah itu hanya cinta monyet atau cinta sesaat aku tidak tau.” ungkapku terpenggal.

“Tapi kurasa aku tidak bisa mengulangi perasaan yang dulu unnie, aku bingung apa yang harus kulakukan. Apalagi untuk saat ini jujur aku masih sangat mengharapkan keajaiban bisa membuatku dan Junhoe…” aku tak mempu menyelesaikan kalimatku yang terpenggal.

Author POV

Kalimat itu menggantung begitu saja tanpa bisa diselesaikan. Air mata Lalice kembali mengalir melewati kedua pipi chubbynya. Jisoo hanya bisa memeluk Lalice untuk menenangkan gadis yang dua tahun lebih muda darinya itu. Jisoo tau masalah besar akan muncul jika keegoisan mereka kembali bertemu, tapi ia juga tidak bisa  mengabaikan perasaan Lalice begitu saja.

“Hey kau masih muda. Bukankah orang akan menjadi dewasa seiring dengan permasalahan yang mereka selesaikan?” Jisoo memberikan pendapatnya dalam pelukan Lalice.

“Unnie… tak bisakah aku lahir sebelum peraturan itu ada?” ucap Lalice disela tangisnya.

“Tuhan tau seberapa batas kemampuan umatnya. Kau mengalami masalah ini karena Tuhan yakin kau mampu menyelesaikannya. Ikutilah kata hatimu, jalani sesuai kata hatimu.” Jisoo kembali menyemangati Lalice.

“Tidak ada makhluk yang sempurna, semua orang pasti punya kekurangan dan kelebihanya Lisa-ya.”

***

Selama liburan musim dingin Lalice pergi ke Thailand, kampung halamannya. Ia pergi dengan sangat berhati-hati mengingat akan banyak paparazzi yang menunggunya di airport. Setelah segala persiapan dilakukan Lalice segera berpamitan dengan teman-temannya untuk pulang ke Thailand dalam beberapa Minggu. Seluruh member mengantarkan Lalice tanpa turun dari mobil Van.

“Lisa-ya jangan lupa kau harus kembali dengan banyak oleh-oleh. Arraseo?” Jennie melambai-lambaikan tangannya dari dalam mobil.

“Ne… unnie.” Jawab Lalice bersemangat.

Sebuah pesan singkat masuk tepat ketika Lalice tengah mengecek seluruh barang bawaan yang ia bawa. Melihat siapa pengirimnya Lalice sama sekali tidak bersemangat untuk membaca pesan itu. Alih-alih membuka pesan itu, Lalice justru mematikan ponselnya seketika itu juga.

“Untuk apa dia menghubungiku huh!!” gerutu Lalice sebal terduduk menunggu jam keberangkatan pesawatnya.

Setibanya di rumahnya, Lalice langsung menuju kamar yang telah lama ditinggalkannya. Merebahkan dirinya disana dengan selimut dan bantal yang ia rindukan. Terlelap disana karena tubuhnya mengisyaratkan untuk segera beristirahat saat itu juga.

“Kak, kau mau tidur sampai liburanmu selesai?” terdengar suara kecil adiknya membangunkan Lalice dari tidur panjangnya.

“Tentu saja tidak, bagaimana sekolahmu? Rankingmu tidak turun kan?” Lalice yang telah terbangun membawa adik perempuannya dalam pangkuannya.

“Tentu saja tidak, bagaimana mungkin rangkingku turun. Aku kan rajin belajar.” Anak kecil itu menjawab dengan bersemangat.

Lalice tersadar jika ia belum membuka ponselnya sejak di bandara kemarin. Ia mencari benda persegi panjang itu di dalam tas gendongnya. Memasang baterai kemudian menyalakannya. Ada beberapa pesan masuk disana, dari teman-temannya di Korea, beberapa pesan dari teman di Thailand dan beberapa pesan dari Bambam.

Bambam : Kapan kita bisa bertemu?

Lalice : Entah, aku sibuk.

Bambam : Kau sedang di Thailand kan?

Lalice : yes, why?

Bambam : Sabtu sore kutunggu kau di Suvarnabhumi jam 5 soree.

Lalice : Aku tidak janji.

Bambam : Pokoknya kau harus datang.

“Eish jinjja… 5 menit saja kau tidak ada disana aku akan pulang!” Lalice membenamkan kepalanya dibawah bantal, ia terlihat frustasi.

Dengan berat hati Lalice pergi ke airport. Ia pergi dengan menaiki taxi, tak lupa ia mengenakan masker, beanie dan jaket untuk menutupi identitasnya. Setibanya di airport Lalice melangkahkan kaki panjangnya menuju ruang tunggu. Terduduk disana dan menunggu. Benar saja apa yang telah ia duga, tepat 5 menit telah berlalu, tapi Bambam masih belum menunjukkan batang hidungnya juga.

“Aku sudah mengatakan lima menit dia tidak muncul, aku akan pergi. Aku pergi.” Lalice melangkah pergi dari kerumunan orang-orang airport.

Lalice telah terduduk manis di dalam taxi yang mengantarnya pulang, tiba-tiba saja Bambam menelponnya.

“Wae?” tanya Lalice acuh.

“Kau dimana? Aku sudah di airport.”

“Aku sudah pulang. Aku muak berada di kerumunan orang banyak.” Lalice menjauhkan ponselnya dari daun telinganya, mengeletakkan ponsel itu di kursi kosong sebelahnya.

Ia pulang dan membenamkan kepalanya di bawah tumpukan bantal. Ia frustasi. Bingung bagaimana harus menghadapi manusia satu itu.

“Apa yang tadi itu keterlaluan?” Lalice membuka bantal yang menutupi kepalanya untuk bernapas.

Lalice membuka kembali ponselnya, menghubungi kembali nomor yang terakhir menghubungi ponselnya.

“Hallo…” suara Bambam terdengar dingin.

“Kau marah?” Lalice bertanya.

“Tidak. Kupikir yang telah terjadi biarkan berlalu.” Bambam masih menjawab pertanyaan Lalice dengan dingin.

“Kalau begitu aku minta maaf.” Lalice menyatakan penyesalannya meninggalkan Bambam tanpa menemuinya terlebih dulu.

Lalice buru-buru mengakhiri sambungan teleponnya.

Selang beberapa jam Bambam kembali mengajak Lalice bertemu kembali, kali ini ia masih bersikeras ingin menemui Lalice. Dengan egonya ia meminta Lisa untuk datang ke bandara kembali besok pagi. Lalice menolak karena akan sangat berbahaya jika ada paparazzi yang mengikutinya mengingat tadi ia sudah kebandara. Meskipun ia berhasil datang dan pulang tanpa ada orang yang mengikuti, bisa saja ada seseorang yang curiga jika Lalice terlihat mondar-mandir di airport dalam beberapa hari.

“Kau ini bagaimana, hari ini kau tidak mau menemuiku begitupun besok? Aku akan tetap menunggu kau di airport sampai kau datang.” Bambam mengirimkan voice note menjawab penolakan Lalice.

“Eish jinjja... mau sampai besok kiamat aku nggak bakal dateng titik!” Lalice membanting ponselnya ke kasur sembarangan.

Hari esok telah tiba, Lalice masih menghiraukan ajakan bertemu Bambam. Ia malah asik mengadakan reuni dengan anggota We Zaa Cool di salah satu restoran yang ada di Bangkok. Lalice tak heran melihat banyak notifikasi yang masuk ke ponselnya. Sampai-sampai salah satu temannya meminta Lalice segera menjawab panggilan masuk dalam ponselnya karena ringtonenya yang terus berdering.

“Wae?” Lalice menjawab panggilan masuk dari Bambam setelah membawa ponselnya ke toilet umum.

“Sampai matipun aku akan menunggumu disini.” hanya itu kata-kata yang mampu Bambam ucapkan.

“Apa kau gila? Lagipula aku juga tidak akan datang.” Lalice menjawab dengan santai karena prediksinya benar.

“Oke, kalau begitu kau ada dimana? Biar aku yang pergi kesana.” Bambam segera mengambil tindakan mengingat Lalice pasti akan melakukan hal yang telah ia katakan.

“Nahm Restaurant” jawab Lalice singkat.

“Aku kesana, sekarang.” sedetik kemudian Bambam mematikan sambungan telepon.

Lalice kembali ke meja makan, kembali berbincang dengan teman-teman yang telah lama ia tinggalkan. Membincangkan saat-saat dimana mereka dulu berjuang bersama untuk bisa menjadi penyanyi dan dancer yang hebat. Ya... saat dimana dulu Lalice pernah memendam rasa pada Bambam yang bahkan sampai rasa itu telah menghilang Lalice tak mengijinkan seorangpun tau kecuali Jisoo.

Seseorang dengan jaket hitam dan kacamata hitam tiba-tiba menyeret tangan Lalice menjauh dari meja. Membawa Lalice ke halaman depan restaurant. Ia berlutut disana dan memohon gadis yang telah ia seret agar menjadi kekasihnya.

“Mama... apa yang harus Lisa kulakukan?” batin Lalice sangat kaget dengan ulah Bambam yang sangat tiba-tiba.

Di satu sisi ia tidak ingin memperlakukan Bambam lebih kejam lagi dengan menolaknya dihadapan seluruh teman-temannya. Disisi lain Lalice tidak ingin mengecewakan Junhoe mengingat Junhoe pasti akan membencinya jika ia sampai menerima Bambam. Ia bahkan harus memutuskannya saat itu juga tanpa waktu panjang untuk memikirkan apa dampaknya.

“Apa kau tidak melihat perjuanganku untuk bisa memohon padamu seperti saat ini?” Bambam kembali mendesak Lalice.

“Junhoe-ssi, ibu maafkan aku harus mengambil keputusan bodoh ini.” jerit Lalice di dalam lubuk hatinya.

“Oke, sebelum aku berubah pikiran.” jawab Lalice dingin.

Bambam sangat senang bisa mendengar kata-kata itu akhirnya bisa keluar dari mulut Lalice. Ia begitu bersemangat menggandeng tangan Lalice memasuki restoran diiringi sorak teman-teman mereka. Namun Lalice cepat-cepat menyingkirkan tangan Bambam yang menggengam tangannya. Bahkan untuk memberikan sebuah senyuman palsu pun, Lalice tak bisa. Sungguh gadis polos itu tak bisa membohongi perasaannya, terutama ketakutannya akan kehilangan kepercayaan dari seseorang yang sangat istimewa baginya.

“Aku pulang.” ucap Lalice pergi menjauh dari meja tanpa bisa menatap wajah orang-orang di meja makan itu.

Lalice terbawa dalam lamunannya.

“Aku takut kau akan membenciku nanti, Junhoe-ssi”

***

Lalice masih tenggelam dalam lamunannya mengingat kata-kata yang terucap dari dua orang yang dianggap penting baginya.

“Aku rela dia akan menghabiskan banyak waktu berharga bersama orang lain, tapi bukan untuk dia.”

“Sepertinya dia hanya akan mempermainkanmu, ibu tidak yakin dia itu anak baik yang akan bisa menjagamu nanti.”

Dua kalimat itu terus berdengung di telinga Lalice seakan membuat gendang telinganya pecah. Lalice membenamkan wajahnya dalam derasnya aliran air dari shower yang ia nyalakan. Ia termenung dalam ingatannya. Ia sendiri didak yakin, apakan perasaan yang telah ia buang bisa ia tanam kembali.

Bambam : Chagi mwohae?

Lalice : Jangan panggil aku Chagi.

Bambam : Kenapa? Bukankah aku namjachingumu. Kenapa tidak boleh?

Lalice : Aku tidak suka. Panggil saja dongsaeng.

Bambam : Shireo, kau bukan adikku.

“Terserah.” Lalice kembali mematikan ponselnya.

Untuk saat ini Lalice seperti sedang ada dalam sebuah ruangan yang disebut neraka. Ia terus menolak, tapi ia pun tak bisa berbuat banyak. Bahkan saat ia sedang ingin menceritakan masalahnya pada ibunya, ibunya tak mau menemuinya. Ia semakin merasa berdosa pada semua orang.

Kini tiba waktunya ia harus kembali ke Korea untuk menjalankan aktivitas seperti biasanya. Saking penasarannya dengan alasan Bambam bisa menyukainya, ia menanyakan alasan itu langsung tanpa basa basi.

Lalice : Bagaimana kau bisa menyukaiku?

Bambam : Umm... aku mulai menyukaimu ketika kau berhasil menjadi pemenang YG audition. Sampai akhirnya aku memberanikan diriku untuk mengungkapkan perasaanku padamu chagiya.

“Hanya karena alasan itu kau berani mengatakan menyukaiku dan tak akan mempermainkanku? Hey lalu kemana saja kau saat kita masih ada di WZC? Apa disana kau tak melihat kehadiranku? Apa aku ini cuma boneka yang sedang belajar dance huh?”

“Jika kau mau masuk YG Entertaintment kenapa harus mengencani YG trainee? Kenapa kau tak keluar saja dari grupmu yang sekarang dan mengajukan surat lamaran ke YG. Aneh.” rutuk Lalice begitu mendengar alasan itu.

Tapi justru alasan itu semakin membuat Lalice membenci namja itu. Jisoo melihat wajah murung Lalice dan menanyakan apa yang menganggu pikirannya. Sementara Lalice menceritakan masalahnya dan hanya bisa menyesali keputusannya.

“Unnie, aku harus bagaimana?” tanya Lalice selesai menceritakan semuanya.

“Aku tau ini berat, Junhoe mengatakan kata-kata itu pasti juga dengan alasan tertentu karena dialah yang lebih mengenal Bambam den kepribadiannya. Aku hanya bisa mengatakan padamu untuk menuruti kata hatimu, bukan kemauanmu.” Jisoo selesai memberikan pendapatnya.

“Jika kau menanyakan pendapat pada gadis-gadis lain, ia pasti akan lengsung menjawab jangan. Karena mereka telah mengenal kebiasaan Bambam.” Jisoo menambahkan.

Seminggu berlalu hanya dengan kata-kata selamat pagi, jangan lupa makan, selamat malam dan selamat tidur. Berulang selama satu minggu dan itu bukan hanya membosankan bagi Lalice, tapi semakin membuat Lalice merasa berdosa. Bukan hanya rasa berdosa pada ibunya, terlebih pada Junhoe. Apalagi tiap Bambam menyebut kata ‘Chagiya’, kata itu semakin membuat kebencian Lalice bertambah.

Lalice : Tolong jangan ganggu aku, jangan hubungi aku. Aku sedang sibuk, aku merasa tidak pantas.

Bambam : Why?

Lalice tak berniat membalas satupun pesan yang Bambam sampaikan.

Lalice membuka akun Path miliknya, memberikan update dengan lagu Girl’s Day – Darling. Tak lama muncul seseorang mengomentari postingan tersebut.

Dongdo979 : Cie yang abis apa sama anak WZC.

Liz2797 : Huh? Nothing.

***

Hanna menantang Lalice untuk ikut menemaninya ke tempat latihan iKon. Lalice dengan perasaan yang tidak yakin menyetujui tantangan itu. Karena ia ingin mencari keputusan apa yang akan ia lakukan.

“Gurae… karena setelah aku bertemu Junhoe aku akan mengambil keputusan dengan perbuatan dosa yang sedang kujalani ini.” batin Lalice

Hari pertemuan sekaligus pengambilan keputusan itu datang. Lalice tidak mengingkari janjinya untuk menemani Hanna. Ia mengikuti Hanna sampai saatnya syuting Lalice pergi untung menghilangkan kebosanannya dengan membeli beberapa snack di minimarket terdekat.

Tak lama kemudian Junhoe muncul dan memberinya minuman bersoda. Pertemuan yang singkat memang, tapi pertemuan itulah yang membuat Lalice menemukan jawaban yang ia cari.

“Kurasa aku tau keputusan apa yang akan kuambil. Junhoe-ssi…”

Lalice melongos pulang sendirian sebelum Hanna menyelesaikan proses filming. Lalice sudah memiliki keputusan yang ia ambil, bukan karena ia masih mengharapkan Junhoe kembali padanya. Melainkan karena ia tak ingin menyakiti perasaannya lebih dalam lagi. Ia juga tak ingin terlalu lama membohongi Bambam akan perasaannya yang sebenarnya.

To : Lalice
Chagiya?

To : Bambam
I feel so sorry about this. But, I can’t do it anymore. I still keep one name in my heart, and that name isn’t you. I don’t wanna hurt you more and more. Let’s end this.

To : Bambam
No more “Chagiya” between us. We’re over now. Don’t call me or looking for me for any reason, again!

Satu jam kemudian Bambam menjawabnya dengan kata “ya”.

Lalice POV

“Aku tidak bermaksud mementingkan egoku agar aku bisa lepas darimu, tapi aku pun tak ingin kisah ini berlarut terlalu lama dan membuat kita sama-sama terluka. Bukankah itu akan semakin menyakitkan?”

“Daripada nantinya hanya akan menyakiti keduanya, akan lebih baik jika segera diakhiri.”

“Aku tidak maksud menggurui maupun mendewai, tapi beginilah keputusanku.”

“Meskipun aku akan tenggelam dalam kesendirianku, tidak apa-apa… asalkan kau tidak membenciku Junhoe-ssi.”

 

ACE's B-Golds JackVIP Copyright © 2011 Designed by Dita Blogger Template Sponsored by web hosting