Drop Down MenusCSS Drop Down MenuPure CSS Dropdown Menu

Jumat, 18 April 2014

[Oneshot] Love at 7th Sight

Diposting oleh Unknown di 05.46


Tittle Love at 7th Sight
Author  HalfAngel
Main Cast Jennie Kim as Nam Jennie

Kim Hanbin as Kwon Hanbin
Other Cast Kwon Jiyeong (G-Dragon) as Kwon Jiyeong

Lee Hi as Hayi

Song Yunhyeong as Yunhyeong

CL as Chaerin
Genre
­School life, Love/Hate, Fluff
Length Oneshot
Rating T
Summary
Desclimer
"Hey! Sudah kucontohkan cara mencatat. Jangan malas mencatat!"
Ini adalah karya sastra author yang baru pertama kali dipublikasiin karena sebelumnya cuma jadi bahan konsumsi sisternya author. Jadi, maaf banget kalo hasilnya cuma abal-abal banget. Mungkin gak suka castnya atau apapun bisa komen aja. Happy reading....





Jennie POV
Satu

Pertama kali aku melihatnya, kesan yang kudapat adalah kita sama sama jutek. Saat itu aku baru masuk pertama kali di gedung Sungkyunkwan University. Aku masuk kelas teknologi karena aku ingin meneruskan pendidikanku di jurusan yang sama dengan Vocational High Schoolku yang dulu. 

Aku masuk dan langsung duduk di bangku tengah. Jam masuk membuat pintu masuk kelas semakin penuh sesak. Terlihat namja menggunakan bannie bermuka malas mengambil tempat duduk disampingku. Tanpa mengucapkan salam, namja itu langsung sibuk dengan i-podnya. Akupun tak sedikitpun berminat untuk berkenalan dengannya. Dosen datang dan mengucapkan perkenalannya, begitu sosaengnim selesai berkenalan namja itu langsung tidur.
"Huh dasar namja malas!" batinku.

Aku mencatat apa yang dijelaskan sosaengnim. Kuambil buku catatan namja disebelahku, karena sedang berbaik hati aku berniat mencatatkan untuk namja itu. Begitu kelas selesai aku langsung pulang tanpa membangunkan namja itu.
Seperti niat awalku, malam harinya aku langsung menyalin catatanku ke buku catatan namja tadi. Di halaman awal ternyata sudah dinamai di kolom yang tersedia. Kubaca namanya, Kwon Hanbin.

"Ooo.... namanya Hanbin." kataku sejenak lalu membalik halaman berikutnya.

Aku mulai menyalin, seperti catatanku yang selalu kutulis dengan pena berwarna-warni. Aku menyalin dan kutambahkan sebuah gambar, anak laki-laki yang sedang tidur dibangkunya dan anak perempuan yang sedang mencatat. Kutambahkan catatan kecil dalam gambar itu.

"Hey! Sudah kucontohkan cara mencatat. Jangan malas mencatat!"

Aku menutup buku catatan bersampul coklat, seragam dengan mahasiswa lainnya. Kuputuskan untuk tidur.

Hanbin POV
Dua

Pagi ini aku dengan malasnya berangkat ke universitas, dibanding dengan berangkat belajar seperti ini aku lebih suka bekerja di studio musik. Aku berlari karena bel masuk telah berdering, tanpa kusadari aku menabrak seorang namja yang juga terburu-buru sepertiku. Namja tinggi yang kutabrak tadi terjatuh, aku segera menolongnya.

"Mian, aku terburu-buru." kataku sambil menolong namja tadi.

"Gwaenchana! Kau kelas apa?" tanya namja tadi.

"Teknologi, kau?" jawabku.

"Wow. sama. Zelo." jawab namja bernama Zelo itu mengajak bersalaman.

"Hanbin." jawabku bersalaman dengannya.\

Kami ke kelas bersama dan aku menuju bangku kemarin yang kuanggap enak untuk tidur. Masih dengan yeoja yang sama dan ekspresi juteknya yang sama. Tapi kali ini dia menyapaku 

"Hey! Ini bukumu, kau harus berterimakasih padaku." kata yeoja itu.

"Ok. Gomawo! Hanbin." jawabku berterimakasih dan memperkenalkan diri.

"Jennie." jawabnya singkat dan bersalaman denganku.

Author POV

Namja bernama Hanbin itu menjatuhkan barang-barang di tasnya. Tak sengaja terbuka buku catatannya, terbuka di bagian tulisan tangan Jennie. Hanbin meraih buku itu dan membuka halaman buku catatannya yang belum pernah ia sentuh sama sekali.

"Cara mencatat, yang benar saja. Yeoja itu ternyata lucu sekali orangnya." kata Hanbin begitu melihat gambar yang memperlihatkan dirinya yang tidur di kelas.

"Hanbin, bagaimana kuliahmu? Menarik?" tanya seseorang yang datang ke kamar Hanbin.

"Aku bosan belajar dad, bisakah aku berhenti kuliah dan bekerja menjadi komposer lagu saja?" jawab Hanbin malas.

"Hey, sebelum selesai kuliah kau hanya boleh bermain dengan temanmu di studio. Ya! apa yang kau pegang?" jawab ayah Hanbin dan merebut buku catatan tadi.

"Ya ya Ya!!! apa itu tulisan yeojachingumu?" selidik ayah Hanbin.

"Aniya..." jawab Hanbin singkat.

"Terserahlah, daddy nggak akan ikut campur. Hhaha... " jawab ayah Hanbin tertawa.

Hanbin POV

Aku memang bukan anak kandung daddy, tapi dia menganggapku seperti anak kandungnya. Ayahku, Kwon Jiyeong adalah seorang produser ternama di YG Entertaintment. Usia kami sebenarnya tak berbeda belasan tahun, mungkin seharusnya aku memanggilnya hyung. Tapi dia yang mendapatkan hak asuhku, otomatis dia menjadi ayahku.

Jennie POV
Tiga

Hari ini ada perjalanan menuju tempat camping yang diadakan universitas. Perjalanan diadakan dengan bus, aku hampir terlambat dan satu-satunya tempat yang tersisa adalah di sebelah Hanbin.

"Ya! kemarin aku udah pesan tempat duduk deket Hayi, kenapa cuma tinggal ini tempat duduknya?" teriakku kesal meletakkan tas.

"Mian, aku yang merebut tempat dudumu." ucap salah seorang namja bernama Yunhyeong.

"Arraseo." jawabku ketus.

"Ya! kau tidak mau duduk disini?" ucap Hanbin malas begitu aku duduk.

Aku hanya diam, malas bertengkar dengannya. Di perjalanan seperti ini aku terbiasa tertidur. Maklumi saja jika selama perjalanan suaraku tak terdengar sama sekali.

Aku menemukan sebuah surat dalam tas, ku buka dan terdapat tulisan 'Secreet Admirer'. Begitu melihat tulisan itu aku malas membacanya dan memilih untuk menyimpan kembali dalam tas.

"Pabo, aku sudah dijodohkan. Bagaimana bisa aku melirik orang sepertimu!" ucapku begitu memasukkan surat itu.

"Ya! Secreet Admirermu? Memangnya orang yang dijodohkan denganmu itu cocok denganmu?" jawab Hayi yang duduk di depannku.

"Dia seorang pria dewasa. Hanya itu clue dari oppaku, aku saja belum pernah bertemu dengannya." jawabku menjelaskan.

"Ya! Jangan bilang kau sudah taken dengan Yunhyeong?" tanyaku menyelidiki.

"Hhehe... mian, dia yang memaksaku duduk dengannya. Padahal aku sudah janji padamu." jawab Hayi menjelaskan.

"No problem, chukhae!" jawabku bersuka cita.

Empat

Hari ini aku harus bertemu dengan orang yang akan ditunangkan denganku. Aku tak begitu penasaran dan tak begitu peduli dengan orang itu. Aku ingin melawan, tapi aku tak punya alasan untuk menolak perjodohan ini.
Mobil lamborghini adventador putih memasuki halaman rumah, ada dua orang namja yang keluar dari mobil itu. Aku hanya mengintip sedikit dari jendela kamar sebelum Taehyun oppa memanggilku.

"Jennie~ya!! cepat turun!"

"Ne, hyung. Ups maksudku oppa!"

Aku segera turun. Sudah ada dua orang lagi-laki duduk di ruang tamu. Aku sedikit terkejut melihat salah satu dua orang itu, sepertinya sangat familiar.

"Annyeonghaseyo, Nam Jennie imnida." ucapku membungkuk 90°.

"Kwon Jiyeong imnida, dan ini anakku Kwon Hanbin."

"K.. k kau?" ucapku dan namja itu berbarengan.

"Kalian sudah saling kenal?" tanya semua yang ada disini termasuk appa, umma dan oppaku.

"Kami satu kelas." jawabku singkat.

"Apa? Aku akan menjadi ibunya? Bagaimana bisa, dia saja seumuran denganku. Ottokhae?" batinku.

Pertemuan malam itu berlangsung dengan sangat membosankan, aku harus terus-terusan pura-pura tersenyum di depan semua orang. Itu sangat menyedihkan, bagaimana bisa aku harus menjadi ibu dari anak yang seumuran denganku. Aku ingin menghindarinya, tapi bagaimana caranya.

Aku berjalan menuju kamar Taehyun oppa.
"Hyung!!" panggilku pelan lalu membuka pintu.

"Ya! Wae?" tanyanya.

"Hyung, bisakah aku menolak perjodohan ini." tanyaku pelan duduk di kursi meja kerjanya.

"Wae? Kau tidak suka orangnya?"

“Bukan begitu, aku tidak mau saja.” jawabku enggan menjelaskan.

“Memangnya kau sudah punya namjachingu?” tanya Taehyun oppa menyeldik.

“Enggak juga.” jawabku lemas.

“Mana bisa dibatalkan kalau kau tidak punya alasan. Kau ini.” kata Taehyun oppa jengkel.

“Carilah namjachinggu! O iya tadi kau dapat salam dari Mino hyung di studio.” lanjutnya lagi.

“Kalau begitu aku akan berkencan dengan Mino hyung saja.” jawabku asal mehrong.

“Andwae! Kau tidak boleh dekat-dekat apalagi berkencan dengannya. Aku takrela kau dengan playboy tengik itu.” kata Taehyun oppa sewot.

Ya! Apa kau cemburu? Hyung?” godaku mencandai.

Aniyo... Ya! Kau itu yeoja, harusnya kau memanggilku oppa. Jangan pernah memanggilku hyung di depan teman-temanku, Arraseo!” seru Taehyun oppa yang selalu sebal jika kupanggil hyung.

Arraseo... Tapi aku tak bisa menjanjikannya :p” jawabku menarik selimut tidur di kamar kakak laki-lakiku yang cantik itu.

Ya! Kau punya kamar sendiri, ini kamarku!” omel Taehyun oppa.

Akhirnya aku tetap tidur di kamar Taehyun oppa, sementara pemilik kamarnya sendiri harus pergi ke kamarku. Itulah kakakku yang sangat kusayangi, dia selalu menjagaku dan menyayangiku.

Lima

Hari ini aku sengaja menghindar dari Hanbin, aku memilih tempat duduk di paling depan. Aku yakin namja itu tak akan mungkin mau duduk di bangku paling depan. Aku tak mau melihat wajahnya, apalagi kalau harus berbicara dengannya.

“Anak-anak kali ini kita akan belajar bilangan biner.” ucap sosaengnim memulai pelajaran.
Selesai kelas, namja yang duduk dibelakangku memintaku untuk menjalaskan kembali apa yang telah dijelaskan sosaengnim karena dia belum paham. Akupun menunggunya di kantin. Setelah beberapa saat menunggu namja bernama Choi Zelo itu muncul juga.

“Maaf kalau kelamaan.” sapa Zelo ramah.

No problem, yang belum kau pahami mana?” tanyaku.

“Aku belum paham bagaimana cara mencari alamat broadcast.” jawabnya sambil mengeluarkan buku catatannya.

“ Misalnya Ip: 192.168.50.74/29. Kau harus merubah Ip Addressnya menjadi bilangan biner, tepat dibawahnya tulislah subnetmasknya dalam bilangan biner. Setelah itu gunakan logika AND, nilainya hanya akan menjadi satu jika bilangan atas dan bawah sama-sama satu selain itu nol. Sampai disini kau sudah paham?” tanya Jennie.

Ne...” jawabnya masih berkonsentrasi pada buku catatan.

“Ok, setelah itu jadikan decimal bilangan tadi. Hasilnya adalah networknya ketemu, 192.168.50.72/29. Untuk jumlah host tiap subnet rumusnya adalah (2^n)-2, nah n-nya adalah jumlah host yang dipinjam. ” lanjut Jennie menerangkan.

“Maksudnya dipinjam?” tanya Zelo bingung.

“Umm... misalnya /29. Untuk kelas C kan menggunakan /24, jika /29 maka subnet yang dipinjam adalah 3 agar bisa menjadi /32. Jika kau masih tidak paham, untuk IP classfull kan /8, /16, /24, dan /32 tinggal dikurangkan saja 32-29=3, paham?” tanya Jennie.

“Ok, aku paham. Lanjutkan!” jawab Zelo.

“Masukkan ke rumus tadi, (2^3)-2=6. Jadi jumlah host persubnetnya adalah 6, jika jumlah hostnya 6 maka Ip Address hostnya akan berakhir pada 192.168.50.76/29, dua tempat terakhir karena tadi dikurangkan 2 adalah untuk broadcast dan network selanjutnya. Jadi broadcastnya adalah 192.168.50.79/29. Selesai.” Ucap Jennie mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.

“Whoaa... Gomawo, kau sangat membantuku.” Ucap Zelo berterimakasih.

Ne... cheonma.” ucapku dan segera berpamitan.

Aku berjalan meninggalkan kantin dan melihat namja bernama Kwon Hanbin itu sedang bersama dengan teman sekelasku yang lain, Chanmi. Aku tak mau menampakkan mukaku didepannya. Aku merasa malu.

Hanbin POV
Enam

Sepertinya yeoja bernama Jennie itu menghindariku, entah mengapa ada sesuatu yang berbeda saat dia menjauh. Aku merasa tak nyaman, hari ini aku akan berusaha menyapanya duluan. Entah mengapa aku ingin banyak bicara padanya.

"Hanbin, daddy pamit!" ucap abeojiku menuju garasi.

"Dandanannya SWAG sekali, tak seperti biasanya." batinku.

"Jangan-jangan...." ucap Hanbin terpotong.

Entah mengapa setelah tau dari pembantuku jika Daddy bertemu dengan tunangannya, aku merasa tak enak. Tapi aku bingung harus berbuat apa. Kuputuskan untuk tidur.

"Ya! Kau menghindariku?" tanyaku begitu melihat dia berdiri meninggalkan bangku.

Tanpa menjawab yeoja itu terus melangkahkan kaki meninggalkan bangku yang kutempati. Terlihat raut malas dan juteknya, sengaja kuperhatikan saat pelajaran dan aku tak tidur di kelas. Sampai kelas selesai, ekspresinya tak berubah sama sekali.

"Ikut aku!" ucapku menari tangan Jennie.

"Lepaskan!" jawabnya menahan sakit ditangannya karena aku menariknya terlalu kencang.

"Ya! Kau mau membawaku kemana? Lepaskan!" pintanya lagi.

Begitu sampai di tempat yang sepi, aku melepaskan tangannya.
"Ya! Kau menghindariku?" tanyaku sekali lagi.

"Wae?" tanyaku lagi.

"Aku takut kau membenciku!" ucapnya lalu pergi begitu saja tanpa sempat kukejar.

Jennie POV

Dia menarik tanganku dan mengintrogasiku seperti seorang penjahat. Aku binggung harus berbuat apa , semakin dekat jantungku semakin berdetak tak karuan. Aku juga tak tau apa yang terjadi denganku. Akhirnya aku berlari sekuat tenagaku, aku ingin menghindarinya.

Semalam aku bertemu dan diajak makan malam dengan ayahnya. Memang ayahnya sangat baik, tapi yang kulakukan hanya menebar senyum palsu. Kurasa aku tidak akan bisa mencintai ayah Hanbin. Tapi bagaimana aku bisa menolak semua ini.

"Hyung kumohon bantu aku menghadapi semua ini. Aku tak sanggup menyelesaikannya sendiri." ucapku memegang gagang ponsel mencoba menghubungi oppaku.

"Ya! Kau menangis? Kau dimana?" tanya Taehyun oppa.

"Aku di taman bermain dekat universitas."  jawabku.

"Ok, tunggu aku!" kata Taehyun oppa mengakhiri panggilan.

Sudah lama menunggu, bahkan sampai sore Taehyun oppa tak datang. Mungkin oppa tak tau tempat ini. Aku merasa haus dan segera berdiri mencari toko terdekat. Di seberang jalan ada sebuah minimarket dan aku kesana. Mengambil sebuah minuman dari kulkas dan segera kembali ke taman setelah membayarnya. Kuteguk air minum yang telah kubeli tadi. Karena kelamaan menunggu aku tertidur juga merasakan kepalaku sudah begitu berat.

Hanbin POV

Aku ke minimarket didekat universitas dengan hoodieku. Membeli ramyun untuk mengisi perutku karena kebetulan teman-temanku mengajak berkumpul. Aku melihat seorang yeoja masuk, Jennie dengan mata sembabnya. Aku segera bersembunyi, kulihat dia mengambil sebuah bir dan keluar.
Setelah membayar ramyun aku mengikutinya perlahan, aku sampai di sebuah taman bermain anak-anak. Kuliat dia meminum bir itu dan segera tertidur. Sudah setengah jam aku memperhatikannya dan tak ada yang menjemputnya. Aku memberanikan diri membangunkannya.

"Hyung! Kau lama sekali, aku menunggumu sampai tertidur." ucapnya setelah terbangun, seperti nya dia mabuk.

"Ya! Kau berani meminum bir?" ta yaku.

"Aniya, aku hanya membeli soda." ucapnya tak karuan seperti anak kecil.

"Hyung, kau bahkan belum menikah dan aku disuruh bertunangan duluan. Aku aku... Shireo!!!" katanya lagi semakin tak jelas.

"Hyung, saranghaeyo..." ucapnya lalu mencium pipiku dan tertidur kembali.

Aku kaget, aku tau dia mabuk tapi bagaimana bisa dia mencium pipiku seperti ini. Memangnya siapa yang dia panggil hyung, oppanya? Namjachingunya? Aku segera menggendong yeoja itu dan mengantarkannya pulang.

Tujuh

Jantungku berdebar tak karuan dan pipiku memerah mengingat kejadian di taman. Seperti biasa aku berangkat dengan berjalan kaki, semakin ingin melupakannya semakin terngiang kejadian kemarin. Sampai di depan pintu dan aku melihatnya tertidur di meja tak seperti biasanya, mungkin dia masih pusing akibat bir kemarin.
Aku duduk disampingnya sebelum dia lari seperti kemarin. Sosaengnim masuk, ia terbangun dan tak bisa pindah tempat. Kulihat ia setengah-setengah memperhatikan pelajaran dan tertidur lagi. Kuambil buku dan kotak pensilnya, aku segera mencatatkan apa yang sosaengnim jelaskan dengan stylenya. Tulisanku memang jelek, tapi setidaknya dia masih bisa membacanya.

Pelajaran berakhir, aku menambahkan gambar kecil seperti yang ada di buku catatanku. Tapi kali ini yeoja yang tertidur dan namja yang mencatat. Aku membangunkannya dan mengembalikan buku dan kotak pensilnya. Dia memasukkan barangnya dan berjalan menuju kantin. Perlahan aku mengikutinya.

Aku mengambil makananku, aku makan sambil memperhatikannya. Selesai makan dia berjalan keluar, perlahan aku mengikutinya lagi. Kami melewati lapangan basket. Kulihat ada bola basket yang akan mengenainya, aku berlari dan segera mendekap tubuhnya. Bola basket mengenai kepalaku, sedikit pusing tapi tak membuatku pingsan.
Aku merasakan jantungku berdetak tak karuan, dan aku juga merasakan detak jantungnya yang tak karuan setelah melihat wajahku. Dia hanya terdiam, aku segera melepaskan pelukanku dan masih berdiri disana. Sepertinya aku mulai mencintainya.

Jennie POV

Dia, Hanbin memelukku. Kukira dia mungkin tau bagaimana detak jantungku tadi. Bagaimana bisa aku mengontrol jantungku sendiri. Aku tak tau, mungkin aku mulai mencintainya. Tak ada diantara kami yang berbicara, aku terus melangkahkan kakiku menjauh.

Suara langkah kaki dibelakangku terus mendekat, tapi aku terlalu takut untuk berbalik. Aku berjalan sampai di halaman belakang universitas. Aku berhenti disana.

"Ya! Kenapa kau terus mengikutiku?" kataku pelan tanpa berbalik.
Kurasa dia berjalan mendekat, tak lama kemudian aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang.

"Karena aku mencintaimu." ucap Hanbin berbisik di telingaku tanpa melepas pelukannya.

Kurasa detak jantungku berdetak dengan cepat, tak teratur seperti tadi. Aku hanya terdiam, aku terlalu gugup untuk melihat wajahnya.

"Would you be my girlfriend?" ucapnya lagi tepat ditelingaku.

Aku merasa jantungku berdetak semakin tak karuan. Bagaimana tidak, selama 18 tahun dalam hidupku baru kali ini aku menerima pengakuan seorang namja secara langsung. Tanpa kusadari aku mengaggukkan kepalaku. Hanbin kini berpindah memelukku dari depan.

"Aku berjanji, aku akan menjagamu dan membuatmu tetap berada disisiku." ucapnya.

Kini aku pulang berjalan kaki dengan Hanbin, namja yang baru saja menjadi namjachinguku. Kami berbincang kecil selama perjalanan. Dan aku merasa lebih tenang setelah berbincang kecil dengannya. Sampai di gerbang rumahku aku menyuruhnya segera pulang.

"Ya! cepat pulang!" ucapku.

"Ani..." ucapnya sambil menunjuk pipinya sendiri dengan jari telunjuk.

"Mwo? Hanya oppaku yang pernah kucium pipi." kataku.

Dia mendekat dan mencium pipiku.
"Ya!" teriakku sebal.

"Nanti kutelepon! Bye...." katanya berjalan menjauh.

Aku memasuki rumah dengan hati-hati, tapi Taehyun oppa memergokiku.
 "Ya! Yeoja tengil, yang tadi itu siapa?" tanya Taehyun oppa kepo, sepertinya tadi dia melihat dari jendela kamarnya.

"Nugu?" ucapku meninggalkan Taehyun oppa menuju kamar.

"Jennie~ya... Kau sudah punya namjachingu?" tanya Taehyun oppa dibalik daun pintu.

"Hyung! Sssstttt! Jangan keras-keras!" ucapku dari dalam ruangan.
-000-

Author POV

Hari ini Jennie  mendapatkan sebuah boneka beruang berwarna biru dengan ukuran sedang hasil kerja keras Hanbin memenangkan sebuah permainian di Lotte World. Jennie senang sekali mendapatkan boneka itu walaupun sebenarnya yang ia inginkan adalah boneka beruang berukuran sangat besar.

“Kau suka?” tanya Hanbin yang berjalan tepat di sisi Jennie.

Ne, aku suka.” jawab Jennie memeluk boneka beruangnya.

“Apa besok kau akan bertemu dengan ayahku?” tanya Hanbin.

“Emp. Mungkin aku tak akan pergi.” jawab Jennie muram.

“Aku akan segera memberritahunya untuk membatalkan rencana pertungannya.” Ucap Hanbin mantap.

Malam itu Jennie dipaksa untuk makan malam dengan Kwon Jiyeong. Walaupun ratusan kali Jennie menolak, orang tuanya tetap tak mengijinkan Jennie untuk tinggal di rumah. Jennie terpaksa untuk datang dang memasang senyum palsunya lagi.

Jeogiyo... mungkin aku akan membatalkan pertunangannya.” ucap Jennie perlahan.

Wae? Kau tak suka denganku?” tanya Jiyeong.

“Bukan begitu, tapi.. Jeosonghapnida, aku sudah terlebih dulu mencintai orang lain.” ucap Jennie gugup menjelasakan.

Gurae, apa kau menyukai Hanbin?” tanya Jiyeong menebak.

“Sudahlah tak perlu kau jawab, sebenarrnya aku sudah tau semuanya.” ucap Jiyeong yang dengan sangat jelas bisa membuat Jennie samakin gugup.

Hanbin memasuki kamarnya, meletakkan tas dan segera mencari sosok ayahnya. Mencari di kamar ayahnya, tapi ia tak menemukannya. Akhirnya ia menemukannya di meja kerja. Memasuki ruang kerja ayahnya dan segera duduk.
 “Hanbin, apa kau baru pulang dari studio sampai selarut ini?” tanya Jiyeong melihat Hanbin memasuki ruang kerjanya.

“Tadi Bobby mengajakku kesana untuk latihan.” jawab Hanbin.

“Bagaimana latihanmu? Apakah Donghyuk sudah banyak peningkatan?” tanya Jiyeong yang masih sibuk dengan kertas dokumen yang berserakan di meja kerjanya.

Dad, apa kau habis bertemu dengan calon tunanganmu?” tanya Hanbin gugup mengalihkan pembicaraan.

“Kenapa kau menanyakannya?” tanya Jiyeong berhenti membolak-balik dokumen.

“Umm... itu...” jawab Hanbin gugup.

“Aku sudah tau semuanya, kau tau usah khawatir.” ucap Jiyeong menatap dalam manik mata Hanbin.

“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Hanbin penasaran.

“Aku pergi ke Universitasmu dan tanpa sengaja melihatmu memeluknya, tak usah dipikirkan kau lebih pantas bersamanya.” jawab Jiyeong santai.

“Kau tak perlu khawatir, pertunangan itu dibuat oleh kakekku dan kakek Jennie. Lagipula aku juga tak akan melakukannya jika Jennie memilihmu.” tambah Jiyeong.

“Lalu bagaimana denganmu dad?” tanya Hanbin lagi.

“Sudah kubilang kau tak perlu khawatir, bukankah namja SWAG sepertiku mudah menakhlukkan hati seorang yeoja?” jawab Jiyeong tertawa.

“Haish... yang benar saja.” ucap Hanbin geleng-geleng kepala.

“Eiy... bukankah umurku ini masih cocok menjadi hyungmu?” tanya Jiyeong melihat Hanbin geleng-geleng kepala.

“Iya, seharusnya aku memanggilmu hyung, tapi kau menolaknya.” jawab Hanbin meninggalkan ruang kerja Jiyeong.
-000-

Ya! Kwon Hanbin!” ucap Jennie mengejar namjachingunya.

Mwo?” ucap Hanbin tanpa dosa.

Ya! Kau menggambari buku catatanku.” protes Jennie.

“Memangnya kenapa? Kau juga menggabari buku catatanku.” jawab Hanbin merasa buku cataatnnya pernah digambari Jennie.

Ya!” Protes Jennie mempoutkan pipinya.

Mareka berdua memang couple yang berbeda karena begitulah cara mereka menunjukka perhatian dan kasih sayang masing-masing. Mereka lebih sering bercanda dan mengejek satu sama lain daripada melakukan berbagai hal rommance. Bagi Jennie dan Hanbin yang sama-sama baru pertama kali mengenal kata cinta, bertengkar merupakan hal yang romantis.

Ya! Sebagai seorang yeojachingu kau harusnya memanggilku oppa, chagi, honey, atau apalah. Selama ini kau selalu memanggilku, ‘ya kau’ seperti itu.” protes Hanbin.

“Aku saja jarang menanggil oppaku oppa, biasanya aku memanggilnya hyung.” jawab Jennie enggan memanggil Hanbin oppa.

“Kau mau memanggilku oppa, atau...” kata Hanbin lagi.

Ne... Aku tau apa yang akan kau katakan. Ne Hanbinie oppa!” jawab Jennie menyetujui.

Ya! Bukankan kau duluan yang pernah mencium pipiku?” ledek Hanbin.

Ya! Kapan aku pernah melakukannya?” jawab Jennie yang sebenarnya enggan membahas masalah itu lagi.

Eiy... itu memang benar-benar pernah terjadi. Waktu kau mabuk, kau duluan yang mencium pipiku :p” jawab Hanbin mehrong.

“Jangan bercanda. Seingatku aku hanya pernah melakukannya dengan oppaku sendiri.” Jawab Jennie mengelak.

“Tapi yang kau kira hyungmu itu aku Pabo!” jawab Hanbin diiringi tawa.

“Ja.. jadi yang waktu itu kau?” tanya Jennie memastikan.

“Tentu saja.” jawab Hanbin mantab.

Shireo!!!” teriak Jennie memukul kecil lengan namjachingunya.

Malam ini Jiyeong, ayah Hanbin mengajak anaknya dan Jennie untuk makan bersama di sebuah restoran. Setelah perjodohan itu dibatalkan secara baik-baik mereka malah menjadi semakin akrab. Hanbin menjemput Jennie dengan salah satu mobil ayahnya. Tapi tak seperti yang Hanbin harapkan, ia hanya melihat Jennie keluar dengan baju, celana jeans. dan sepatu sneaker.

"Ya! Kukira aku akan menjemput tuan putri, kenapa yang keluar cuma..." ucap Hanbin mendapati yeojachingunya keluar tanpa dress yang ia inginkan.

"Memangnya kenapa? Aku terbiasa pergi dengan style seperti ini." jawab Jennie sewot menghadapi omelan namjachinggunya itu.

"Aish, jinjja! Palli masuk!" ucap Hanbin membukakan pintu mobil.

Hanbin melajukan mobil lamborghini adventador putih itu dengan cepat. Mereka masih terus memperdebatkan hal yang tidak penting. Memang itu kebiasaan mereka, selalu meributkan hal-hal kecil seperti anjing dan kucing. Akhirnya mobil mewah itu mendarat di tempat parkir sebuah restoran tradisional Korea.

"Annyeonghaseyo." sapa Jennie ramah.

"Annyeong. Apa kalian bertengkar dulu sampai aku lama menunggu huh?" tanya appa Hanbin.

"Seperti biasa dad. Yeoja cerewet ini selalu menantangku." jawab Hanbin melirik Jennie yang berdiri tepat disampingnya.

"Aniya..." jawab Jennie mengelak.

"Sudah, lebih baik kalian pesan makanan dulu!" ucap Jiyeong enggan mendengar pertengkaran dua sejoli tadi.

"Wah, apa kalian sudah lama menunggu?" ucap seorang yeoja yang tiba-tiba datang.

"Chaerin unnie, kenapa kau ada disini?" tanya Jennie kaget.

"Kalian sudah kenal satu sama lain?" tanya appa Hanbin.

"Tentu saja, Chaerin unnie kan guru lesku." jawab Jennie menjelaskan.

"Wah kebetulan sekali, perkenalkan dia ini yang jadi yeojachinguku. Dia yang akan jadi eommamu Hanbinie." seru Jiyeong memperkenalkan.

"Annyeong." seru Chaerin pada calon anaknya dan calon menantunya (?).

"Annyeong." jawab Jennie dan Hanbin bersamaan.

"Dad, jangan bilang kau sudah dengannya sebelum masalah kemarin." tebak Hanbin.

"Kau ini, selalu sok tau tapi selalu benar. Hhaha..." jawab Jiyeong tertawa.

"Unnie, kenapa kau tak pernah menceritakan padaku. Berarti aku akan memanggilmu eomma?" seru Jennie bersemangat.

Hanbin menepikan mobil di seberang sebuah taman bermain anak, tepatnya di depan sebuah mini market. Turun dan segera berjalan memasuki sebuah taman bermain anak playgroup. Jennie hanya bisa mengikutinya di belakang Hanbin.

"Ya! Kenapa kita kesini, ini sudah malam aku ingin pulang." seru Jennie yang sudah lelah.

"Kau ingat? Kau pernah salah membeli minuman dan tertidur disini." ucap Hanbin menunjuk sebuah kursi panjang yang ada disana.

"Aku?" tanya Jennie menunjuk dirinya sendiri.

"Bahkan untuk pertama kalinya aku mendapatkan ciuman pipi dari seorang yeoja. Kau tak ingat?" tanya Hanbin lagi.

 "Jadi yang kau katakan selama ini benar?" jawab Jennie balik bertanya.

"Duduklah!" ucap Hanbin setelah mengiyakan pernyataannya tadi.

"Saranghae..." ucap Hanbin setelah mengecup kecil pipi yeoja yang telah duduk tepat disampingnya.

"Nado saranghaeyo, Hanbinie oppa..." seru Jennie tersipu malu.

Begitulah cinta, kadang indah di permukaan tapi berduri setelahnya. Tapi untuk Hanbin dan Jennie, cinta yang semula hoax dan mitos bisa mereka rubah menjadi kenyataan yang punya semua rasa. Mereka merubah sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi asin, asam dan manis dalam satu waktu. Walaupun mereka belum pernah sama sekali menjalani komitmen dengan seseorang, mereka bisa melakukannya dengan menghadapi resiko yang ada.

3 komentar:

Unknown on 28 Maret 2015 pukul 17.57 mengatakan...

Waaa first time nih baca fanfic jenkim-hanbin,semoga author bikin lebih banyak fanfic jenkim-hanbin yaaa^^ fanfic nya lucu mereka nya,sweet tapi kecepetan alurnya:((

Unknown on 4 April 2015 pukul 11.30 mengatakan...

Makasih komentnya... Hehe alurnya emang dibikin cepet soalnya oneshoot. Masih banyak kekurangannya ya? Hehe maklum ff pertama author. Tunggu ff author yang lain yaa :))

Unknown on 16 November 2015 pukul 15.20 mengatakan...

hanbinn aku suka sangat sangat suka ditaak

Posting Komentar

 

ACE's B-Golds JackVIP Copyright © 2011 Designed by Dita Blogger Template Sponsored by web hosting